STPI Bina Insan Mulia

Oleh: H. Imam Khoiri, S.Ag., M.E.

Dalam al-Qur’an, disebutkan kisah beragam profil manusia. Ada manusia yang dititahkan menjadi raja seperti Dzluqornain dan Thalut. Ada juga yang dititahkan menjadi budak yang ahli hikmah, seperti Luqman. Keduanya berbeda dalam kedudukan sosial dan struktur masyarakat. Satu raja dan yang lain budak. Selain keduanya, ada kelas rakyat pada umumnya.

Dalam hidup, perbedaan adalah niscaya. Justru dengan perbedaan itu, hidup ini bisa berjalan. Dalam hidup, tidak semua bisa kita kendalikan. Wilayah kita adalah meneguhkan cita-cita kebaikan dan berusaha menggapainya. Bisa jadi, hasil yang dicapai sangat jauh dari yang diharapkan. Bisa juga, hasilnya sesuai dengan yang direncanakan. Adakalanya, hasilnya melampaui dari yang diinginkan.

Pada akhirnya, yang terjadi adalah taqdir. Semua yang disebut cita-cita, ikhtiyar, usaha dan sebab, adalah ruang dimana manusia menampilkan kualitas dirinya. Bukankah kadang Allah memberi pada saat manusia tidak menghendaki? Pada saat lainnya, Allah menahan sementara manusia sangat menginginkan? Itu semua mengingatkan agar manusia sadar tentang status kehambaan dirinya. Andai setiap keinginan bisa terwujud, mungkin manusia akan mempertuhankan diri.

Dalam sejarah Indonesia, Sukarno bukan yang paling pintar. Ada Sjahrir, Hatta, Tan Malaka yang lebih fasih Bahasa Belanda dan dididik di Belanda. Sukarno hanya alumni dalam negeri. Dia lulusan ITB. Tetapi mengapa ia menjadi presiden Indonesia? Jawabannya, taqdir. Harus diterima. Sama juga dengan Jendral A Yani, AH Nasution dan lain-lain yang lebih senior. Tetapi kenapa Suharto yang menjadi presiden? Karena taqdir.

Nasib dan suratan kita masing-masing harus kita terima. “Kridaning pakarti ora bisa mbedah pastine gusti.” Sehebat apa pun manusia lari mengejar cita-cita, tidak akan melampaui ketentuan Tuhan. Ada polah dan ada pasrah. Manusia harus punya cita-cita dan berusaha meraihnya dengan usaha. Setiap kita harus ber-ikhtiyar, sebab itu artinya melaksanakan perintah Allah. Namun semua harus dilandasi pasrah. Sebab semua yang Anda lakukan tidak akan melampaui batas ketentuan taqdir.

Maka cintailah taqdir Anda, peluklah dan berbahagilah dengan tugas hidup Anda. Jika Anda menjadi raja seperti Dzulqarnain, maka terimalah dan laksanakan tugas sebagai raja dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, jika Anda ditaqdirkan menjadi budak, seperti Luman, maka terimalah takdir itu dengan senang hati.

Demikian juga dengan taqdir Anda sebagai kepala sekolah, guru, satpam, juru masak, penjaga sekolah, atau apa pun. Laksanakan tugas Anda dan bergembiralah. Sebab di dalam setiap taqdir, ada kewajiban. Masing-masing dituntut melaksanakan kewajiban sesuai posisinya. Tidak ada yang lebih mulia antara satu posisi dengan posisi lain. Yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa. Siapa pun Anda.

* Penulis adalah Direktur Litbang LPI Salsabila