STPI Bina Insan Mulia

Oleh: H. Imam Khoiri, S.Ag., M.E.

Izinkan saya bercerita sedikit tentang perjalanan yang pernah saya lalui. Tahun 1993-1996, saya sekolah di MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) Jember. Program MAPK lahir dari gagasan Menteri Agama, pak Munawir Syadzali. Program ini dibuka di lima lokasi; Jember, Yogyakarta, Ciamis, Padang Panjang dan Ujungpandang. Kami, satu angkatan, berjumlah 40 orang, berasal hampir dari seluruh kota di Jatim dan sebagian Jateng. Semuanya laki-laki. Kami tinggal di asrama. Kebutuhan makan dicukupkan dari beasiswa pemerintah Rp.17.500 per bulan. Tentu dengan segala kesederhanaan.

Selepas dari MAPK Jember, 40 orang ini mengikuti jalan takdirnya masing-masing. Ada yang sekolah di PTAIN. Ada yang melanjutkan di PT umum. Ada juga yang kuliah di Mesir.

Hari ini, setelah 25 tahun berlalu, dua orang kawan kami sudah wafat. Sedang 38 lainnya tersebar di berbagai kota dengan beragam peran dan profesi. Ada yang jadi anggota legislatif, dosen, guru, penyuluh agama, hakim, pejabat struktural pemerintah, pengusaha, kyai pesantren, konsultan pajak, pegawai bank, panitera, pegiat tahfidz Alquran, aktifis LSM, penghulu, bahkan salah seorang menjadi rektor PT.

Begitulah Allah memberikan beragam karunia-nya. Sebagian ditinggikan dari sebagian yang lain. Meski 25 tahun silam, kami berangkat bersama-sama, kini semua berbeda. Berbeda jumlah hartanya, ilmunya, kedudukannya kesehatannya dan juga usianya. Itulah sunnatullah. Dalam perjalanan manusia, ada banyak kejutan-kejutan takdir. Di sanalah Allah menampakkan kuasaNya. Diantara kami, dulu ada yang biasa-biasa saja, sekarang menjadi luar biasa. Sebaliknya, yang dulur luar biasa, sekarang tampak biasa.

Hal yang sama saya kira juga anda alami. Dulu mulai berjuang bersama-sama. Yg satu memegang amanah jabatan, yang lain tidak. Yang satu lari kencang, yang satu seolah jalan di tempat.

Keragaman karunia itu adalah modal untuk beramal. Pada akhirnya, standar penilaian kualitas diri manusia itu ada dua. Siapa yang paling bertakwa dan amal kebaikan yang dia lakukan. Dunia dan seisinya akan kita tinggalkan. Harta yang susah payah dicari, pada akhirnya tidak pernah sungguh-sungguh dimiliki, kecuali tiga saja. Makanan yang kita makan dan menjadi kotoran, baju yang dipakai hingga usang, dan harta yang diinfakkan.

Setelah itu, tentu kami semua akan menyusul dua rekan kami yang telah mendahului. Dan hanya amal yang akan menyertai perjalanan panjang setelah meninggalkan dunia ini.

Begitu dunia ditinggalkan, semua amal terhenti. Tapi masih ada tiga warisan yang masih terus mengalir dan mendangkan manfaat kebaikan. Yakni shadaqah jariyah bagi yang dikaruniai harta. Ilmu yang bermanfaat bagi yang dikaruniai pengetahuan. Dan anak-anak yang sholeh bagi yang memiliki anak keturunan. Jika mungkin, raihlah ketiganya. Hartawan yang dermawan, ilmuan yang menjadi guru, orang tua dengan anak-anak yang saleh. Jika tidak mungkin, paling tidak salah satunya.

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan karya. Maka, mari kita terus berikan  karya terbaik dalam posisi, amanah dan tugas masing-masing. Sebagaimana takdir manusia di dunia banyak yang mengejutkan, demikian pula di akhirat kelak. Mereka yang di dunia dipandang mulia, boleh jadi di akhirat akan terhina. Sebaliknya, mereka yang sekarang dipandang hina, boleh jadi di akhirat mulia.

Terus berjuang. Lalu berdoalah seperti doa Nabi Ibrahim AS:

واجعل لي لسان صدق في الآخرين

Ya Allah jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian” (Asy-Syuara’: 84).

Suatu saat, ketika Anda tiada, orang-orang mengenang dan membicarakan kebaikan Anda. Mereka kehilangan Anda. Sejarah mencatat, pernah hidup seorang manusia hebat yang banyak memberikan manfaat dan kebaikan. Dan orang itu adalah Anda.

 

Penulis adalah Direktur Litbang LPI Salsabila Yayasan SPA Indonesia